rss

PTC Corner

Dedicated PTC overall

Saturday, 15 August 2009

Berpikir dan Bersyukurlah

Pernahkah kita berfikir bahwa Allah telah melipatkan nikmatnya dari ujung rambut hinggga ke bawah telapak kaki?Apabila kita mencoba untuk menghitungnya,mustahil untuk bisa melakukannya, inilah kebenaran firman Allah,

“Jika kamu menghitung nikmat Allah,niscaya kamu tidak sanggup menghitungnya” (QS ibrahim:34)
Kenapa kita tidak bisa menghitungnya? Karena saking berlipatnya nikmat Allah ini, sehingga kita merasa itu bukan nikmat Allah,kita merasa itu memang kepunyaan kita, hak yang kita dapatkan dari Allah. Sehingga kita menganggap emua yang kita miliki, kekayaan , kesehatan, keamanan negeri,kita merasa bahwa memang kita pantas mendpatkannya, atas jerih payah kita dengan mengabaikan Allah.
“Dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu lahir dan batin”(Luqman:20)
Kita akan merasa bahwa itu semua merupakan nikmat yang berlipat yang telah Allah beri tatkala mendapat musibah,kepala yang biasanya nyaman QodarullahAllah kasih migraine (sakit kepala sebelah),apa yang kita rasakan, sakit bukan kepalang,saat itu kita baru merasa nikmatnya sehat yang telah Allah berikan.
Tangan yang biasanya kuat untuk mengangkat beban berat sekalipun, Qodarullah Alloh patahkan tangan kita,masya Allah sakitnya bukan main,sehingga untuk angkat bayi aja tidak kuat,baru kita merasakan nikmatnya punya tangan yang sehat.
“Maka nikmat rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Arrahman :13)
Pernahkah kita sadari, kita bisa tisur nyenyak, sedangkan tetangga kita, gelisah tidak bisa tidur karena sakit,atau pernahkah kita bersyukur, masih dapat menyantap makanan yang lezat, sedangkan disekitar kita masih banyak orang yang kelaparan ?.
Maukah kita menukar tangan kita dengan untaian mutiara, sementara tangan kita buntung, atau sebuah kalung permata nan indah, sedangkan mata kita buta ?, tentu saja kita tidak akan mau.
Kita tidak menyadari sebenarnya kita berada dalam kenikmatan yang tiada tara dan kesempurnaan tubuh. Kita masih merasa resah gelisah,suntuk sedih,meskipun kita masih punya beras untuk makan besok, air hangat,masih dapat tidur pulas,dan kesehatan untuk berbuat lebih banyak.
Kita acapkali memikirkan hal yang tidak ada,dan berfikir keras untuk mendapatkannya, padahal kita masih punya kebahagiaan,kenikmatan, karunia dan nikmat yang lainnya.Pikirkanlah dan bersyukurlah Karena Allah telah melebihkan nikmatnya, meskipun rasa syukur kita tidak akan pernah cukup untuk membalas nikmatNya.
“dan pada dirimu sendiri. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan “ (QS Addzariyat:21)



Read more...

Friday, 14 August 2009

Supir Saya

Oleh: Ust.Yusuf Mansyur

Kita tidak mengenal Allah. Itu yang menyebabkan kita tidak menyambut
kedatangan-Nya. tidak di shalat fardhu, dan lebih tidak lagi di shalattahajjud.
Beruntunglah orang-orang yang tahu bahwa Allah itu selalu datang. Datang dengan
segala karunia-Nya, datang dengan segala pertolongan- Nya. Untuk kemudahan
berkendaraan, Allah karuniakan saya supir.

Saya tidak menganggap supir saya ini lebih rendah dari saya. Malah saya
seringkali membesarkan hatinya, bahwa kemana saya ceramah, maka dia dapet juga
pahala kebaikannya. Asal dia mau membaca basmallah dan berdoa agar amalan
ceramah saya, pun ia dapatkan. Namun, ketika saya tidak mendapati supir saya
tepat waktu, tidak kurang sayapun suka terbersit rasa kesal. "Bagaimana
sih? Udah tahu mau jalan, koqmalah ga ada?" begitu saya berpikir. Di satu
waktu, saya memberitahu supir saya, agar dia standby langsung didepan lobi satu
tempat, sebab sudah akan jalan lagi ke tempat yang lain. Dan saya sudah
wanti-wanti dengan sangat. Yang demikian itu, agar tidak jadi hambatan bagi
perjalanan saya. Tapi rupanya dia tidak mengindahkan. Begitusaya keluar, dia
tidak ada. Begitu saya telpon, katanya sedang ngantar saudara saya ke depan
jalan utama, mencari taksi. Saya marah, namun, bersabar rasanya lebih baik.
Karena saya tidak bisa menunggu lebih lama, saya bilang sama dia, saya naik
taksi saja juga dah. Dan dia saya suruh pulang. Ada suara bersalah di ujung
seberang HP sana. Namun saya tidak mau berlama-lama lagi. Saya tutup telponnya
dan saya segera mencari taxi. Sebelum taxi yang saya pesan, sampe, supir saya
sudah datang dan meminta maaf.

Sekarang saya sadar, bahwa selama ini sayapun sering mengecewakan Allah, Tuhan
saya yang sudah demikian baik kepada saya, kepada keluarga saya, kepada semua
manusia. Dan sekarang saya membiarkan Allah menunggu saya...Saya tidak dapat
membayangkan, andai yang mengucapkan kalimat: "Tunggu ya Pak!", adalah
supir saya. Ya, ketika saya perlu dia, dia lalu mengatakan itu. Lebih konyol
lagi kalo dia bilang, Pak, kalo ga sabar, silahkan saja naik taxi ya. Saya makan
dulu... (???!!!). Wuih, saya tidak dapat membayangkan, apa yang saya akan
lakukan terhadap supir saya itu. Lebih lagi saya tidak mampu membayangkan jika
saya lah yang menjadi supir buat majikan saya. Saya harus selalu standby buat
majikan saya. Lalu kenapa kita tidak pernah siap siaga untuk Allah, Tuhan kita?

Disebut siap siaga bila kita selalu stel panca indera kita. Kita, menjadi
weker, atau alarm, untuk diri kita sendiri. Selalu waspada setiap waktu shalat
datang. Syukur-syukur bila kita mau menjaga wudhu kita. Jadi, gaperlu mengantri
ketika saat shalat datang. Makin cepat kita datang kepada Allah, rasanya hidup
kita akan didahulukan ketimbang orang-orang yang selalu telat datangnya. Makin
kita bergegas menuju Allah, menyambut Allah, doa-doakita pun akan semakin cepat
dikabul, masalah-masalah kalau datang cepatselesainya, hajat kalau ada bisa
Allah segerakan pencapaiannya. Tapi apa boleh buat.

Selama ini kita menyadari bahwa sama yang namanya shalat, kita jarang
mementingkannya. Romantisme Bertauhid Allah, Yang Maha Perkasa, selalu
mendatangi kita. Disambut tidak disambut,dilayani tidak dilayani, dengan
Kasih Sayang-Nya, DIA selalu hadir dikehidupan kita. Lantaran tidak mengenal-Nya, kita
lalu menjadi manusia-manusia yang kehilangan momen berharga bertemu dengan
Pemilik Dunia ini. Subhaanallaah.

Masih seputar supir saya, alangkah manisnya bila kemudian ketika saya keluar
dari satu tempat, dia sudah standby dengan mobil yang AC nya sudah dingin
menyebar ke seluruh kabin mobil. Lebih lega lagi saya kalau kemudian mobil itu
bersih luar dalem dan wangi. Tambah bangga saya, kalau kemudian ia turun dari
mobilnya, lalu dengan sopannya membukakan pintu mobil untuk saya. Saya seperti
raja, he he he. Tapi ya, sehari-hari saya tidak demikian. Inikan cerita
"alangkah manisnya". Bukan yang sebenarnya. Tapi logika ini mau
dipakai untuk menunjukkan kesiapan kita dan kesopanan kita terhadap
Allah.Ternyata, jauh sekali dari yang semestinya.

Mestinya, jangan Allah yang menunggu kita. Tapi kita yang menyambut
kedatangan Allah. Kita sudah siap siaga sebelum datangnya waktu shalat. Kita sudah siap
siaga sebelum muadzdzin mengumandangkan azannya. Bagi yang mengingat masa-masa
pergi haji atau umrahnya, koq bisa ya kalo ditanah suci kita melangkahkan kaki
kita ke masjid, jauh sebelum azan? Bahkan ada yang tidak beranjak dari masjidil
haram atau masjidin nabawi, memilih untuk menunggu datangnya waktu shalat yang
lain. Coba diprogram hidup kita, dengan menyetel ulang jadwal ibadah kita. Mari
kita sambut Allah. Jangan biarkan lagi kita yang ditunggu Allah. Syukur-syukur
kita mau menyambut Allah dengan pakaian yang lebih bagus ketimbang kita menemui
manusia. Kalaupun tidak, siapkan wewangian khusus untuk menyambut Allah yang
kita pakai hanya ketika menghadap-Nya. Kita kemudian tegakkan shalat-shalat
sunnah. Kita datang sebelum waktu azan...Duh, indahnya...Saya kadang suka iseng
membayangkan, Allah turun dengan Malaikat-Malaikat Pengiring-Nya. Allah memasuki
masjid dengan Anggun-Nya, penuh Wibawa, penuh Pesona. Lalu saya menoleh ketika
Allah datang, lantaran saya sudah di dalammasjid duluan. Lalu Allah tersenyum
kepada saya dan saya katakan, saya sudahdi sini ya Allah. Saya sudah di
sini. Begitulah. Asli. Candaan iseng, bayangan iseng ini, senang sekali
saya bayangkan. Sehingga hati ini senang betul mengambil air wudhu untuk tajdiidul
wudhu (memperbaharui wudhu). Saya ingin Pencipta saya senang bahwa saya
betul-betul mengabdi pada-Nya. Saya belum mampu mengabdi banyak, ya dengan cara
beginilah dulu. Tampil di muka ketika shalat. Subhaanallaah.

Begitu pun ketika masa shalat tahajjud. Ketika saya terbangun, saya bayangkan
bahwa Allah yang membangunkan saya. DIA berada di samping saya,dan membangunkan
saya dengan penuh Kelembutan dan Kasih Sayang-Nya. MasyaAllah. Bertentangan
tentu memvisualkan hal-hal seperti ini. Tapi inilah saya. Romantisme
bertauhid dengan Allah menjadi sangat nyata buat saya.

Ketika saya pedengerkan keluhan saya, saya bercerita kepada yang melebihi
sahabat dekat saya. Saya perdengarkan keluhan-keluhan saya tentang
kejadian-kejadian hidup yang saya lewati, detail, pelan-pelan. Pakai bahasa
sehari-hari dengan tetap memperhatikan kesantunan, adab, kesopanan layaknya saya
bicara dengan Tuhan Pemilik Alam ini. Tapi ya itu, visualisasi bahwa saya sedang
bercengkrama dengan-Nya, saya usahakan betul, agar Allah hadir di hati saya.
Dalam suasana sentimentil, misalnya sedang marah, sedang kecewa, sedang sangat
senang, atau sedang sangat sedih, biasanya manusia sanggup bercengkerama dengan
Allah. Rahasianya barangkali karena hatinya dihadirkan untuk berdioalog dengan
Allah. Semoga kita bisa senantiasa menyambut Allah dan bermesra-mesraan
dengan-Nya. Kendalikan perasaan dengan memprogramnya. Sehingga kapanpun,
romantisme bertauhid bisa senantiasa kita rasakan. Kepada-Nya lah semua urusan
dikembalikan. Kita berdoa terus agar Allah berkenan memperkenalkan diri-Nya
kepada kita dan kita bisa mengenal-Nya.Amin.



"Positive minds brings you positive life"

Read more...

Thursday, 13 August 2009

Tanda-Tanda Kemunculan Imam Mahdi

Oleh: Ust.Ihsan Tanjung (Era muslim.com)

Para ulama membagi Tanda-tanda Akhir Zaman menjadi dua. Ada Tanda-tanda Kecil dan ada Tanda-tanda Besar Akhir Zaman. Tanda-tanda Kecil jumlahnya sangat banyak dan datang terlebih dahulu. Sedangkan Tanda-tanda Besar datang kemudian jumlahnya ada sepuluh. Alhamdulillah, Allah sayang sama umat manusia. Sehingga Allah datangkan tanda-tanda kecil dalam jumlah banyak sebelum datangnya tanda-tanda besar. Dengan demikian manusia diberi kesempatan cukup lama untuk merenung dan bertaubat sebelum tanda-tanda besar berdatangan.


Banyak pendapat mengatakan bahwa kondisi dunia dewasa ini berada di ambang datangnya tanda-tanda besar Kiamat. Karena di masa kita hidup dewasa ini sudah sedemikian banyak tanda-tanda kecil yang bermunculan. Praktis hampir seluruh tanda-tanda kecil kiamat yang disebutkan oleh Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sudah muncul semua di zaman kita. Maka kedatangan tanda-tanda besar tersebut hanya masalah waktu. Tanda besar pertama yang bakal datang ialah keluarnya Dajjal. Namun sebagian ulama berpendapat bahwa sebelum munculnya Dajjal harus datang terlebih dahulu Tanda Penghubung antara tanda-tanda kecil kiamat dengan tanda-tanda besarnya. Tanda Penghubung dimaksud ialah diutusnya Imam Mahdi ke muka bumi.

Dalam sebuah hadits Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengisyaratkan bahwa Imam Mahdi pasti datang di akhir zaman. Ia akan memimpin ummat Islam keluar dari kegelapan kezaliman dan kesewenang-wenangan menuju cahaya keadilan dan kejujuran yang menerangi dunia seluruhnya. Ia akan menghantarkan kita meninggalkan babak keempat era para penguasa diktator yang memaksakan kehendak dan mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya dewasa ini menuju babak kelima yaitu tegaknya kembali kekhalifahan Islam yang mengikuti manhaj, sistem atau metode Kenabian.

لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا يَوْمٌ لَطَوَّلَ اللَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ حَتَّى يَبْعَثَ فِيهِ

رجل مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي وَاسْمُ أَبِيهِ اسْمُ أَبِي

يَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَجَوْرًا

“Andaikan dunia tinggal sehari sungguh Allah akan panjangkan hari tersebut sehingga diutus padanya seorang lelaki dari ahli baitku namanya serupa namaku dan nama ayahnya serupa nama ayahku. Ia akan penuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan penganiayaan.” (HR abu Dawud 9435)

Lelaki keturunan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam tersebut adalah Imam Mahdi. Ia akan diizinkan Allah untuk merubah keadaan dunia yang penuh kezaliman dan penganiayaan menjadi penuh kejujuran dan keadilan. Subhanallah...! Beliau tentunya tidak akan mengajak ummat Islam berpindah babak melalui perjalanan tenang dan senang laksana melewati taman-taman bunga indah atau melalui meja perundingan dengan penguasa zalim dewasa ini apalagi dengan mengandalkan sekedar ”permainan kotak suara”..! Imam Mahdi akan mengantarkan ummat Islam menuju babak Khilafatun ’ala Minhaj An-Nubuwwah melalui jalan yang telah ditempuh Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam dan para sahabatnya, yaitu melalui al-jihad fi sabilillah.

Imam Mahdi akan berperan sebagai panglima perang ummat Islam di akhir zaman. Beliau akan mengajak ummat Islam untuk memerangi para Mulkan Jabriyyan (Para Penguasa Diktator) yang telah lama bercokol di berbagai negeri-negeri di dunia menjalankan kekuasaan dengan ideologi penghambaan manusia kepada sesama manusia. Bila Allah mengizinkan Imam Mahdi untuk menang dalam berbagai perang yang dipimpinnya, maka pada akhirnya ia akan memimpin dengan pola kepemimpinan berideologi aqidah Tauhid, yaitu penghambaan manusia kepada Allah semata. Banyak ghazawat (perang) akan dipimpin Imam Mahdi. Dan –subhaanallah- Allah akan senantiasa menjanjikan kemenangan baginya.

تَغْزُونَ جَزِيرَةَ الْعَرَبِ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ فَارِسَ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ

ثُمَّ تَغْزُونَ الرُّومَ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ تَغْزُونَ الدَّجَّالَ فَيَفْتَحُهُ اللَّهُ

“Kalian perangi jazirah Arab dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian Persia (Iran), dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian kalian perangi Rum, dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian kalian perangi Dajjal, dan Allah beri kalian kemenangan.” (HR Muslim 5161)

Lalu apa sajakah indikasi kedatangan Imam Mahdi? Dalam sebuah hadits Nabi shollallahu ’alaih wa sallam memberikan gambaran umum indikasi kedatangan Imam Mahdi. Ia akan diutus ke muka bumi bilamana perselisihan antar-manusia telah menggejala hebat dan banyak gempa-gempa terjadi. Dan kedua fenomena sosial dan fenomena alam ini telah menjadi semarak di berbagai negeri dewasa ini.

أُبَشِّرُكُمْ بِالْمَهْدِيِّ يُبْعَثُ فِي أُمَّتِي عَلَى اخْتِلَافٍ مِنْ النَّاسِ

وَزَلَازِلَ فَيَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا

“Aku kabarkan berita gembira mengenai Al-Mahdi yang diutus Allah ke tengah ummatku ketika banyak terjadi perselisihan antar-manusia dan gempa-gempa. Ia akan penuhi bumi dengan keadilan dan kejujuran sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kesewenang-wenangan dan kezaliman.” (HR Ahmad 10898)

Hadits berikut ini bahkan memberikan kita gambaran bahwa kedatangan Imam Mahdi akan disertai tiga peristiwa penting. Pertama, perselisihan berkepanjangan sesudah kematian seorang pemimpin. Kedua, dibai’atnya seorang lelaki (Imam Mahdi) secara paksa di depan Ka’bah. Ketiga, terbenamnya pasukan yang ditugaskan untuk menangkap Imam Mahdi dan orang-orang yang berbai’at kepadanya. Allah benamkan seluruh pasukan itu kecuali disisakan satu atau dua orang untuk melaporkan kepada penguasa zalim yang memberikan mereka perintah untuk menangkap Imam Mahdi.

يَكُونُ اخْتِلَافٌ عِنْدَ مَوْتِ خَلِيفَةٍ فَيَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ هَارِبًا إِلَى مَكَّةَ فَيَأْتِيهِنَاسٌ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ فَيُخْرِجُونَهُ وَهُوَ كَارِهٌ فَيُبَايِعُونَهُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ

وَيُبْعَثُ إِلَيْهِ بَعْثٌ مِنْ أَهْلِ الشَّامِ فَيُخْسَفُ بِهِمْ بِالْبَيْدَاءِ بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِينَة

“Akan terjadi perselisihan setelah wafatnya seorang pemimpin, maka keluarlah seorang lelaki dari penduduk Madinah mencari perlindungan ke Mekkah, lalu datanglah kepada lelaki ini beberapa orang dari penduduk Mekkah, lalu mereka membai’at Imam Mahdi secara paksa, maka ia dibai’at di antara Rukun dengan Maqam Ibrahim (di depan Ka’bah). Kemudian diutuslah sepasukan manusia dari penduduk Syam, maka mereka dibenamkan di sebuah daerah bernama Al-Baida yang berada di antara Mekkah dan Madinah.” (HR Abu Dawud 3737)

Saudaraku, sebagian pengamat tanda-tanda akhir zaman beranggapan bahwa indikasi yang pertama telah terjadi, yaitu perselisihan dan kekacauan yang timbul sesudah wafatnya seorang pemimpin. Siapakah pemimpin yang telah wafat itu? Sebagian berspekulasi bahwa yang dimaksud adalah Saddam Husein. Karena semenjak kematiannya, negeri Irak berada dalam kekacauan berkepanjangan. Wallahua’lam bish-showwab. Bila analisa ini benar berarti dewasa ini kita sudah harus bersiap-siap untuk berlangsungnya pembai’atan paksa Imam Mahdi di depan Ka’bah.

Saudaraku, bila ketiga peristiwa di atas telah terjadi, berarti Ummat Islam di seluruh penjuru dunia menjadi tahu bahwa Imam Mahdi telah datang diutus ke muka bumi. Panglima ummat Islam di Akhir Zaman telah hadir.. . Dan bila ini telah menjadi jelas kitapun terikat dengan pesan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sebagai berikut:

فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَبَايِعُوهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ فَإِنَّهُ خَلِيفَةُ اللَّهِ الْمَهْدِيُّ

“Ketika kalian melihatnya (kehadiran Imam Mahdi), maka berbai’at-lah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah Al-Mahdi.” (HR Abu Dawud 4074)

Ya Allah, izinkanlah kami bergabung dengan pasukan Imam Mahdi. Ya Allah anugerahkanlah kami rezeki untuk berjihad di jalanMu bersama Imam Mahdi lalu memperoleh salah satu dari dua kebaikan: ’isy kariman (hidup mulia di bawah naungan syariat Allah) atau mut syahidan (mati syahid). Amin...

Read more...

Wednesday, 12 August 2009

Jangan takut jadi orang aneh

"Dunia memang aneh", Guman Pak Ustadz
"Apanya yang aneh Pak?" Tanya Penulis yang fakir ini.
"Tidakkah antum (kamu/anda) perhatikan di sekeliling antum, bahwa dunia menjadi terbolak-balik, tuntunan jadi tontonan, tontonan jadi tuntunan, sesuatu yang wajar dan seharusnya dipergunjingkan, sementara perilaku menyimpang dan kurang ajar malah menjadi pemandangan biasa"

"Coba antum rasakan sendiri, nanti Maghrib, antum ke masjid, kenakan pakaian yang paling bagus yang antum miliki, pakai minyak wangi, pakai sorban, lalu antum berjalan kemari, nanti antum ceritakan apa yang antum alami" Kata Pak Ustadz.

Tanpa banyak tanya, penulis melakukan apa yang diperintahkan Pak Ustadz, menjelang maghrib, penulis bersiap dengan mengenakan pakaian dan wewangian dan berjalan menunju masjid yang berjarak sekitar 800m dari rumah.

Belum setengah perjalanan, penulis berpapasan dengan seorang ibu muda yang sedang jalan-jalan sore sambil menyuapi anaknya"

"Aduh, tumben nih rapi banget, kayak pak ustadz. Mau ke mana, sih?" Tanya ibu muda itu.
Sekilas pertanyaan tadi biasa saja, karena memang kami saling kenal, tapi ketika dikaitkan dengan ucapan Pak Ustadz di atas, menjadi sesuatu yang lain rasanya...
"Kenapa orang yang hendak pergi ke masjid dengan pakaian rapi dan memang semestinya seperti itu dibilang "tumben"?
Kenapa justru orang yang jalan-jalan dan memberi makan anaknya di tengah jalan, di tengah kumandang adzan maghrib menjadi biasa-biasa saja?
Kenapa orang ke masjid dianggap aneh?
Orang yang pergi ke masjid akan terasa "aneh" ketika orang-orang lain justru tengah asik nonton sinetron "Intan".
Orang ke masjid akan terasa "aneh" ketika melalui kerumunan orang-orang yang sedang ngobrol di pinggir jalan dengan suara lantang seolah meningkahi suara panggilan adzan.
Orang ke masjid terasa "aneh" ketika orang lebih sibuk mencuci motor dan mobilnya yang kotor karena kehujanan.
Ketika hal itu penulis ceritakan ke Pak Ustadz, beliau hanya tersenyum, "Kamu akan banyak menjumpai "keanehan-keanehan" lain
di sekitarmu," kata Pak Ustadz.
"Keanehan-keanehan" di sekitar kita?
Cobalah ketika kita datang ke kantor, kita lakukan shalat sunah dhuha, pasti akan nampak "aneh" di tengah orang-orang yang sibuk sarapan, baca koran dan mengobrol.
Cobalah kita shalat dhuhur atau Ashar tepat waktu, akan terasa "aneh", karena masjid masih kosong melompong, akan terasa aneh di tengah-tengah sebuah lingkungan dan teman yang biasa shalat di akhir waktu.
Cobalah berdzikir atau tadabur al Qur'an ba'da shalat, akan terasa aneh di tengah-tengah orang yang tidur mendengkur setelah atau sebelum shalat. Dan makin terasa aneh ketika lampu mushola/masjid harus dimatikan agar tidurnya nyaman dan tidak silau. Orang yang mau shalat malah serasa menumpang di tempat orang tidur, bukan malah sebaliknya, yang tidur itu justru menumpang di tempat shalat. Aneh, bukan?
Cobalah hari ini shalat Jum'at lebih awal, akan terasa aneh, karena masjid masih kosong, dan baru akan terisi penuh manakala khutbah ke dua menjelang selesai.
Cobalah anda kirim artikel atau tulisan yang berisi nasehat, akan terasa aneh di tengah-tengah kiriman e-mail yang berisi humor, plesetan, asal nimbrung, atau sekedar gue, elu, gue, elu, dan test..test, test saja.
Cobalah baca artikel atau tulisan yang berisi nasehat atau hadits, atau ayat al Qur'an, pasti akan terasa aneh di tengah orang-orang yang membaca artikel-artikel lelucon, lawakan yang tak lucu, berita hot atau lainnya.
Dan masih banyak keanehan-keanehan lainnya, tapi sekali lagi jangan takut menjadi orang "aneh" selama keanehan kita sesuai dengan tuntunan syari'at dan tata nilai serta norma yang benar.
Jangan takut dibilang "tumben" ketika kita pergi ke masjid, dengan pakaian rapi, karena itulah yang benar yang sesuai dengan al Qur'an (Al A'raf:31)
Jangan takut dikatakan "sok alim" ketika kita lakukan shalat dhuha di kantor, wong itu yang lebih baik kok, dari sekedar ngobrol ngalor-ngidul tak karuan.
Jangan takut dikatakan "Sok Rajin" ketika kita shalat tepat pada waktunya, karena memang shalat adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya terhadap orang-orang beriman.
"Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian
apabila kamu Telah merasa aman, Maka Dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." (Annisaa:103)

Jangan takut untuk shalat Jum'at/shalat berjama'ah berada di shaf terdepan, karena perintahnya pun bersegeralah. Karena di shaf terdepan itu ada kemuliaan sehingga di jaman Nabi Salallahu'alaihi wassalam para sahabat bisa bertengkar cuma gara-gara memperebutkan berada di shaf depan.

"Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli [1475]. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui". (Al Jumu'ah:9)

Jangan takut kirim artikel berupa nasehat, hadits atau ayat-ayat al Qur'an, karena itu adalah sebagian dari tanggung jawab kita untuk
saling menasehati, saling menyeru dalam kebenaran, dan seruan kepada kebenaran adalah sebaik-baik perkataan;

"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (Fusshilat:33)

Jangan takut artikel kita tidak dibaca, karena memang demikianlah Allah menciptakan ladang amal bagi kita. Kalau sekali kita menyerukan, sekali kita kirim artikel, lantas semua orang mengikuti apa yang kita serukan, lenyap donk ladang amal kita....

Kalau yang kirim e-mail humor saja, gue/elu saja, test-test saja bisa kirim e-mail setiap hari, kenapa kita mesti risih dan harus berpikir ratusan atau bahkan ribuan kali untuk saling memberi nasehat. Aneh nggak, sih?

Jangan takut dikatain sok pinter, sok menggurui, atau sok tahu. Lha wong itu yang disuruh kok, "sampaikan dariku walau satu ayat" (potongan dari hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 3461 dari hadits Abdullah Ibn Umar).

Jangan takut baca e-mail dari siapapun, selama e-mail itu berisi kebenaran dan bertujuan untuk kebaikan. Kita tidak harus baca e-mail
dari orang-orang terkenal, e-mail dari manajer atau dari siapapun kalau isinya sekedar dan ala kadarnya saja, atau dari e-mail yang
isinya asal kirim saja. Mutiara akan tetap jadi mutiara terlepas dari siapapun pengirimnya. Pun sampah tidak akan pernah menjadi emas, meskipun berasal dari tempat yang mewah sekalipun.

Lakukan "keanehan-keanehan" yang dituntun manhaj dan syari'at yang benar.

Kenakan jilbab dengan teguh dan sempurna, meskipun itu akan serasa aneh ditengah orang-orang yang berbikini dan ber-you can see.

Jangan takut mengatakan perkataan yang benar (Al Qur'an & Hadist), meskipun akan terasa aneh ditengah hingar bingarnya bacaan vulgar dan tak bermoral.

Lagian kenapa kita harus takut disebut "orang aneh" atau "manusia langka" jika memang keanehan-keanehan menurut pandangan mereka justru yang akan menyelematkan kita?

Selamat jadi orang aneh yang bersyari'at dan bermanhaj yang benar...


Read more...

Tuesday, 11 August 2009

Persiapan Menuju Akhirat

Saudaraku, berikut ini merupakan bekal bagi kita untuk menuju alam akhirat. Dengan bekal ini diharapkan perjalanan panjang yang akan kita lalui menjadi mudah. Dan semoga Allah subhanahu wata’ala memudahkan kita semua dalam melewati alam barzakh, makhsyar, hisab, mizan, dan sirath. Bekal-bekal tersebut di antaranya adalah:


1. Keimanan kepada Allah subhanahu wata’ala, malaikat, kitab-kitab, para Rasul-Nya dan hari Akhir serta Qadar baik dan buruk.

2. Menjaga shalat fardhu lima waktu di masjid dengan mengerjakannya secara berjama'ah pada waktunya, dengan penuh kekhusyu'an dan mema-hami makna-maknanya. Sedangkan bagi wanita, shalat di rumah adalah lebih utama.

3. Mengeluarkan zakat wajib pada waktunya sesuai dengan ukuran dan sifat-sifatnya yang telah disyari'atkan.

4. Puasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan pengharapan pahala dari Allah subhanahu wata’ala.

5. Haji yang mabrur, sebab tiada balasan baginya kecuali surga dan berumrah di bulan Ramadhan yang pahalanya setara haji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

6. Mengerjakan hal-hal yang sunnah, yaitu yang di luar shalat lima waktu, zakat, puasa dan haji. Dalam hadits Qudsi, Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
"Dan senantiasalah hamba-Ku mende-katkan diri kepada-Ku dengan hal-hal yang sunnah hingga Aku mencintainya." (HR. Al-Bukhori dan Ahmad)

7. Segera bertaubat yang sebenarnya dari semua perbuatan maksiat dan munkar serta bertekad untuk memanfaatkan waktu-waktu yang tersedia dengan memperbanyak istighfar, dzikir, dan beragam jenis keta'atan.

8. Berbuat ikhlas kepada Allah subhanahu wata’ala dan meninggalkan riya' dalam segala urusan. (Baca: QS. Al-Bayyinah: 5)

9. Mencintai Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya yang hanya bisa terealisir dengan mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. (Baca: QS. Ali 'Imran: 31)

10. Mencinta karena Allah, membenci karena Allah, loyal karena Allah dan memusuhi karena Allah. Dan konsekuensi dari hal ini adalah mencintai kaum Mukminin sekali pun mereka jauh dan membenci orang-orang kafir sekali pun mereka dekat.

11. Takut kepada Allah subhanahu wata’ala, Yang Maha Agung, mengamalkan wahyu-Nya, rela hidup berkekurangan serta bersiap diri menyambut hari kepergian (saat kematian). Inilah hakikat takwa.

12. Bersabar atas bencana yang menimpa, bersyukur di saat mendapatkan kesenangan, merasa selalu dalam pengawasan Allah subhanahu wata’ala dalam setiap kondisi serta berharap mendapatkan karunia dan pemberian-Nya.

13. Bertawakkal dengan baik kepada Allah subhanahu wata’ala. (Baca: QS. Al-Ma'idah: 23)

14. Menuntut ilmu yang bermanfa'at dan berusaha untuk menyebarkan dan mengajarkannya. (Baca: QS. Al-Mujadilah: 11; Ali 'Imran: 187)

15. Mengagungkan al-Qur'an dengan mempelajari dan mengajarkannya, menjaga batasan-batasan dan hukum-hukumnya, mengetahui halal dan haramnya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
"Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Al-Bukhari)

16. Berjihad di jalan Allah, murabathah di jalan-Nya, tegar menghadapi musuh dan tidak lari dari medan peperangan. Hal ini berdasar-kan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
"Janganlah kamu mengangankan bertemu musuh, mintalah keselamatan kepada Allah; jika kamu bertemu mereka, maka bersabarlah dan ketahuilah bahwa surga berada di bawah kilatan pedang." (Muttafaqun 'alaih)

17. Menjaga lisan dari hal-hal yang diharamkan seperti berdusta, ghibah (menggunjing), namimah (mengadu-domba), mencaci, melaknat, berkata kotor dan musik. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam." (Muttafaqun 'alaih)

18. Menepati janji, menunaikan amanah, tidak berkhianat dan licik. (Baca: QS. Al-Ma'idah: 1; QS. Al-Baqarah: 283)

19. Tidak melakukan zina, minum khamer, membunuh jiwa yang diharamkan Allah subhanahu wata’ala kecuali dengan haq, berbuat zhalim, memakan harta orang lain secara batil, memakan riba dan memakan sesuatu yang secara syari'at bukan miliknya. (Baca: QS. Al-A'raf: 33)

20. Wara' (menjaga kesucian diri) dalam hal makanan dan minuman serta menghindari sesuatu yang tidak halal darinya. (Baca: QS. Al-Maidah: 3)

21. Berbakti kepada kedua orangtua, menyambung tali rahim, mengunjungi teman-teman, bersabar atas tingkah polah mereka, mengupayakan berbuat baik, terhadap orang dekat atau pun jauh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Barangsiapa yang memenuhi hajat saudaranya, niscaya Allah akan memenuhi hajatnya dan barangsiapa yang menghilangkan satu dari kesulitan-kesulitan di dunia yang dihadapi seorang mukmin, niscaya Allah akan menghilangkan satu dari kesulitan-kesulitan di hari Kiamat yang dihadapinya." (Muttafaqun 'alaih)

22. Menjenguk orang sakit, berziarah kubur, mengiringi jenazah, sebab hal itu dapat mengingatkan akhirat dan membuat zuhud dalam kehidupan di dunia.

23. Tidak memakai pakaian yang diharamkan seperti sutera, emas, tidak berpakaian melebihi mata kaki bagi laki-laki (Isbal) dan menggunakan bejana-bejana yang terbuat dari emas dan perak untuk makan dan minum.

24. Berhemat dalam nafkah, menjaga nikmat dan tidak berbuat mubazir. (Baca: QS. Al-Isra': 26)

25. Tidak dengki, iri, memusuhi, saling membenci dan menjatuhkan kehor-matan kaum Muslimin dan Muslimah dengan tanpa haq.

26. Beramar ma'ruf nahi munkar, berdakwah mengajak orang kepada Allah subhanahu wata’ala dengan cara hikmah dan Mau'izhoh Hasanah.

27. Berlaku adil terhadap manusia, tolong-menolong dalam berbuat kebajikan dan takwa. (Baca: QS. Al-An'am: 152)

28. Berakhlak mulia seperti Tawadhu' (rendah hati), kasih sayang, lemah lembut, malu, halus hati, menahan emosi, dermawan, tidak sombong, angkuh, dan sebagainya.

29. Menjalankan hak-hak anak-anak dan isteri secara penuh dan mengajarkan mereka masalah-masalah agama yang diperlukan.(Baca: QS. At-Tahrim: 06)

30. Memberi salam dan membalasnya, mendoakan orang yang bersin, memuliakan tamu dan tetangga, menutupi aib pelaku maksiat semampunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Barangsiapa yang menutupi (aib) saudaranya sesama muslim, maka Allah akan menutupi (aibnya) pada hari Kiamat." (Muttafaqun 'alaih)

31. Zuhud di dunia, pendek angan-angan sebelum ajal menjemput.

32. Cemburu (sensitif) terhadap kehormatan, memicingkan mata dari hal-hal yang diharamkan

33. Menghindari hal yang sia-sia dan bermain-main serta melakukan perkara-perkara positif.

34. Mencintai shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan ke-luarga beliau (pen), berlepas diri dari orang-orang yang membenci atau men-cela mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Barangsiapa yang mencela para shahabatku, maka atasnya laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia." (HR. Ath-Thabarani, dinilai Hasan oleh Syaikh Al-Albani)

35. Mendamaikan sesama manusia, menengahi beda pendapat di antara dua orang yang berselisih pendapat sehingga jurang perselisihan dan perpecahan tidak meluas

36. Tidak mendatangi dukun, ahli nujum, para tukang sihir, para peramal dan sebagainya

37. Wanita hendaknya patuh terhadap suaminya, menjaganya dalam harta, anak dan ranjangnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Bila seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan mena'ati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya, “Masuklah ke surga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki.!” (HR. Ibnu Hibban, dinilai Shahih oleh Syaikh Al-Albani)

38. Tidak berbuat Bid'ah (mengada-ada) di dalam agama atau menyeru kepada kebatilan dan kesesatan.

39. Kaum wanita hendaknya tidak menyambung rambutnya dengan rambut lain (menyanggul atau rambut Wig), tidak mentato, mencukur alis, meratakan gigi dengan tujuan hanya untuk mempercantik diri.

40. Tidak mematai-matai kaum Muslimin dan mengungkap aurat serta menyakiti mereka.

Sumber: Az-Zâ'ir Al-Akhîr karya Khalid bin Abu Shalih (Abu Shofiyyah)


Read more...

Tuhan Sembilan Senti

Oleh Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara-perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok, di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,
Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok, bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat merokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang merokok, menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil 'ek-'ek orang goblok merokok, di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, ke mana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai, ini ruangan ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawwa'i. Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith. Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.
Read more...

Monday, 10 August 2009

Oh,Rupiahku,Oh Negaraku

Oleh : Ust.yusuf Mansyur

Apakah Bangsaku Tidak Lagi Diperhitungkan? 2004 saya jalan ke Brunei. Karena saya pikir dkt, saya cuma bawa 1 kantong plastik saja. Ternyata di perjalanan, bawaan saya bertambah. Begitu masuk bandara Brunei, saya berniat membli tas. saya tawarlah 1 tas di 1 toko. Setelah dikurskan ke rupiah, angkanya jd 4,2jt.

Saya terbelalak, dan setengah bercanda saya bilang bahwa di Indonesia, tas kayak gini palingan 300-400rb atau paling mahal 1jt dah. Eh, si penjaga toko memasang muka merendahkan gitu, dan bilang: "No no no... Bukan tas kami yang mahal, tapi you punya rupiah yang tak ada harga!".
Ya Allah, seperti ditampar rasanya muka saya. Segitunyakah rupiahku? Segitunya kah negeriku? Mata uangnya tak ada harga. Lalu, pegimana bangsanya? Bagaimana negerinya? Adakah martabatnya?
2008 ini entah yang keberapa kali saya mengadakan prjalanan keluar negeri. Sudah tidak saya hitung lg saking seringnya, he he he. Nikmat ini saya syukuri. Saya tringat, dulu saban saya dimandiin dan dipakaikan pakaian oleh ibu saya, ibu saya hampir selalu berdoa dg doa yang relatif sama. Ya, hampir selalu. Doanya biar saya, katanya, gampang bulak balik ke mekkah, seperti ke pasar. Terus biar bisa keliling dunia. Yusuf kecil saat itu, sempat pula bertanya sambil ketawa, masa iya ke mekkah segampang ke pasar? Lagian mana mungkin sih keliling dunia? Ibu saya menjawab, eeeehhhh... Allah Punya Kuasa. Kalo DIA mau, gampang buat DIA mah. Nabi Muhammad aja diterbangin isra mi'raj.
Ya itulah doa ibu saya. Alhamdulillah. Trnyata betul. Sekarang saya alami sendiri. Pergi haji buat saya pribadi udah benar-benar gampang. Alhamdulillah. Biar pintu pendaftaran dah ditutup, saya masih bisa pergi dengan undangan kerajaan punya, atau dengan cara-cara yang tahu-tahu saya udah di sana! Subhaanallaah memang. tapi saya ga aji mumpung. Waktu ibu saya, mertua dan rombongan keluarga ga dapat nomor haji, banyak orang dekat bilang, pake dong power ente. Ah, saya mah malah bilang, sabar ya bu. Sabar ya wahai keluargaku. Pergi haji mah urusan Allah. Ga usah dicari-cari. Kalo dah waktunya, ya waktunya.
Dan alhamdulillah, pergi ke luar negeri pun sekarang ini saya yang susah payah menolak undangannya. Masya Allah. And I speak not only in bahasa; but both in arabic and english as an international language.
Saya bersyukur dengan keadaan ini, tapi sekaligus ada yang membuat saya menjadi tertegun. Betapa " Jakarta " dah ga dianggap. Di hampir semua bandara internasional; baik asia, maupun non asia, nama " Jakarta " ga ada lagi di board penunjuk waktu.. Yang ada: London , Paris , New York , dan kota-kota besar dunia. Bahkan ada nama Kuala Lumpur ! Sedang Jakarta, yang mewakili satu nama besar: Indonesia , ga ada lagi di board tersebut.
Apa yang sedang terjadi dengan bangsa kita, kita semua tahu...
Setiap kali keluar kota dan keluar negeri, saya termasuk yang langka punya. Ga bawa duit, dan ga bawa kartu kredit. Bukan apa-apa, sebab biasanya saya dijemput langsung di pintu pesawat. Atau kalaupun tidak, dijemput di setelah lolos imigrasi. Oleh para penjemput di kota-kota atau negeri-negeri orang, saya sudah ditanggung beres.. Jadi, uang yang saya bawa, benar-benar ga laku, he he he. Pengertian ga laku ini, hanya untuk menunjukkan ga terpakai. Sebab kalaupun saya bawa dollar, mereka-mereka menahan saya untuk bayar. Mereka saja yang berkhidmat.
Hingga satu waktu, saya jalan ke Singapore untuk keperluan pribadi.. Berangkatlah saya sendiri, sebagaimana biasanya. Ya, saya senang berangkat sendirian. Sebab simple. Enteng. Ga banyak-banyak orang.
Paling banter, berdua dg istri atau anak-anak. tapi ini pun jarang. Dan sampe di Singapore juga sendiri. Ga ada yang jemput. Sebab saya pun tidak mmberitahu kawan-kawan di sana. Sampe di Changi saya baru ingat, saya hanya bawa 2jt. Dan itu rupiah. Belum saya tukerin. Menjelang keluar bandara, saya laper, pengen cari cemilan dan kopi. Bergegaslah saya ke salah satu sudut, untuk beli yang saya maksud. Saya pikir, bisa lah skalian nuker seperti kalo belanja di Bangkok, Thailand. Eh, ternyata saya salah. "Indonesia?" , tanya pelayan toko. Ya, saya bilang. Indonesia.. "Oh, sorry," katanya sambil muka nya ga enak gitu. "Your money didn't accepted here". Masya Allah! Lagi-lagi kayak ditampar saya ini. Uang rupiah ga diterima di sini.
Selanjutnya dia menunjukkan money changer di bandara. Saya mengurungkan niat saya untuk nyemil dan ngopi. tapi saya pura-pura mengiyakan akan menuju money changer. Dan subhaanallaah, kekagetan saya belom selesai. Si pelayan ini masih bersorry-sorry ria. Katanya, jagan kaget, rupiah rendah sekali katanya nilai tukarnya. Waaah, entahlah apa yang ada di benak saya....
Bahkan pengemispun tidak menerima rupiahku! Ya, itulah yang saya alami.satir. Mirip komedi satir. Lucu, tapi getir.
Antara 2004-2005, dalam 1 lawatan ke Eropa. Saya dkk turun di Frankfurt, German. Dari sini perjalanan ke beberapa negara di Eropa, dimulai. Sekian waktu , sampe lah kami di Belanda. Ada salah satu kawan di rombongan yang mmberi tahu betapa Indonesia sudah tidak ada. "Hatta," katanya, "Di tempat pelacuran, ada pengumuman agar para pelacur tidak menerima mata-mata uang yang ditaroh di list. Salah satunya rupiah!". Kawan saya ini berkata geli. Saya pun ikut tertawa. Tapi ngebatin. Ada segitunya ya.
Dari Belanda, kami pergi ke Belgia dan kemudian ke Perancis. Naik kereta super cepatnya Eropa. Enak, nyaman, dan menyenangkan. Turun di stasiun Perancis, kami dicegat oleh 1 pengemis perempuan. Cantik menurut ukuran saya mah. Sampe saya geleng2 kepala, kenapa dia mengemis. Kalo boleh saya bawa, mending saya bawa ke Jakarta , he he he.
Trnyata dia mengaku Bosnia punya. Maksudnya, orang Bosnia. Sdg hamil pula. Entah bohong apa tidak. Salah satu kwn, memberinya rupiah. 200rb. Di Indonesia, 200rb ini bukan cuma besar. Tapi sangat besar. Niscaya kalo pengemis di tanah air diberi 200rb, akan sujud2 rasanya kpd yang mmberi. Dia pun saat itu trsenyum. Barangkali dia merasa kwn saya itu sdh mmberinya uang besar. Kwn saya pun senang melihat pengemis itu senang..
Lusanya, kami langsung balik ke Amsterdam, Belanda. Naik kereta lagi. Sampenya di stasiun, ketemu lagi dengan pengemis perempuan muda tersebut. Kali ini wajahnya bersungut-sungut. Dari kejauhan dia melihat kami. Begitu melihat kami, dia langsung berlari menuju kami dengan wajah yang tiba-tiba kesal begitu. Terus, langsung menemui kawan saya yang tempo hari ngasih. Dengan kasarnya, uang 200rb itu dipulangin. Katanya, sambil marah, dia mengatakan, ini toilet paper! Gila, saya bilang, uang kita disebutnya kertas toilet. Dia bercerita sambil membuat kawan-kawan terbahak-bahak. Katanya, dia berusaha menukar uang kita itu, tapi ga ada yang nerima. Barangkali semua kawan sama dengan saya, di selipan tawa kami, ada satu kegetiran, segitunyakah rupiah saya? Rupiah kita? Sampe pengemis saja ga menerimanya? Masya Allah. Bangkitlah wahai negeriku. Bangkitlah wahai negeriku.
Hampir di setiap events internasional, perhatian kita (untuk saya tidak mengatakan perhatian pemerintah), sangat-sangat kurang. Terbilang lumayan sering anak-anak Indonesia berprestasi memenangkan kompetisi-kompetisi internasional semacam olimpiade fisika, matematika, sains, bahasa dan lain-lain. Tapi sepi benar dari pemberitaan. Berita-berita buat bangsa kita tidak lagi ada, atau sedikit, yang mmbuat kita sendiri bangga. Barangkali seperti tulisan saya ini, he he he. Maaf ya. Tapi emang kenyataannya begini.
Saya pernah membaca ada seorang yang sangat pintar di negeri orang. Tapi katanya dia ga merasa dihargai di negeri sendiri. Akhirnya hasil penemuannya dipatenkan di negeri di mana dia belajar dan mengabdi, dan kemudian dia mendapatkan permanen residence dari negeri tsb.
Sekelompok kawan TKI di salah satu negara tujuan TKW, mengeluhkan juga tentang "perwakilan" mereka di negeri itu. Katanya, kita punya gedung sekian belas lantai. Tapi nothing buat kita! Begitu katanya. Wuah, miris juga saya dengar. Lihat terusan kalimatnya. "Sedangkan Philipina, hanya 2 lantai, itu pun ngontrak, tapi bangsanya bangga dengan kerja perwakilannya. Puas". Sedangkan kita, benar-benar payah. Kalau kita lapor (maksudnya itu TKW2), kita ga diperlakukan dg ramah. Malah jadi kayak jongos benar-benar. . Mereka kemudian cerita, bangsa aslinya sendiri, ketika mereka datang mau mengadu, mereka duluan yang menyapa:

What can I do for you...?". Ramah bener.
Yah, itu barangkali sekelumit hal-hal yang tidak menyenangkan. Tapi saya percaya, negeri kita masih diperhitungkan di dunia ini. Benarkah?
Siapa yang tidak bangga dengan Garuda? Maskapai Penerbangan Nasional yang menginternasional. Bangga. Sejarah Garuda demikian mengagumkan.
Hingga ketika diri ini yang bangga dengannya menerima satu kenyataan. Kata seorang petinggi wilayah ketika saya menginap di kediamannya di Amstelvein, Belanda, Garuda tidak lama lagi tutup. Bukannya ga boleh terbang loh.. Tapi tutup. Sebab tidak laku atau gimana lah. Ga ngerti. Beberapa tahun setelahnya, saya dikagetkan lagi dengan berita bahwa Garuda tidak diperkenankan melewati Eropa karena satu dua alasan.
Bahkan di wilayah saudi pun bermasalah. Entahlah apa yang sedang terjadi. Saat tulisan ini dimuat, Garuda sudah berhasil melewati masa-masa sulit itu. Bahkan Garuda sudah menangguk keuntungan dari yang tadinya merugi. Dan Garuda pun menerima penghargaan internasional.
Namun, ketika ada berita bahwa Garuda tutup dan Garuda dilarang terbang, rasanya teriris-iris hati ini. Tarbayang Garudaku yang gagah, yang jadi perlambang negeri ini, harus "menerima perlakuan" tidak hormat seperti itu. Terbanglah lagi Garudaku. Mengangsalah ke seluruh penjuru dunia. Supaya dunia tahu betapa gagahnya lambang negaraku.
Saya tersenyum kecut dengan dua berita yang turun dengan rentang waktu yang tidak berapa lama. Yaitu berita tentang petinggi kita yang kamarnya digeledah ketika berada di negeri orang. Dan yang satunya lagi, ketika diperiksa berlama-lama di imigrasi satu airport internasional. Lepas dari kenapa dan bagaimananya kisah di balik dua berita itu, bagi saya ya sekali2 memang petinggi kita kudu merasakan.
Merasakan apa? Merasakan jadi warganya. Tidak jarang kami-kami juga diperlakukan demikian. Seenaknya saja mereka masuk kamar hotel kami dan memeriksa kami dengan satu alasan sederhana saja: Kami harus memeriksa Anda! Begitu saja. Ga ada penjelasan.
Di Australia, berapa kali saya harus melewati pemeriksaan yang -- hingga -- ikat pinggang saya pun hrs ditaroh di pemeriksaan. Tas-tas saya pun hrs dibuka dan cenderung bahasa seharusnya: diobrak-abrik. Lagi-lagi alasannya sederhana: Kami harus memeriksa Anda. Satu yang menyakitkan, mereka melihat wajah saya: Asia. Asia harus diperiksa. Lalu ditanyalah saya, darimana? Saya jawab dengan gagahnya: Indonesia. Eh tanpa dinyana, petugas membuka lembaran petunjuk, dia urut dengan jarinya, ketemu! Ya, katanya, Indonesia harus diperiksa. Ooo, rupanya dilembar cek-list itu, nama Indonesia masuk daftar negara yang orang-orangnya harus diperiksa. Subhaanallaah. Geram juga saya. Nanti, kata saya, kalau saya udah jadi Presiden, saya gituan dah dunia, he he he. Untunglah saya jauh jadi presiden. Kalo iya, udah perang terus kali bawaannya, ha ha ha. Perang urat syaraf. Betapa tidak, Bali saya periksa ketat seperti mereka memeriksa kita. Kamar-kamar mereka, tak geledah di sembarang waktu. Dan saya instruksikan supaya mata uang yang dipakai, hanya rupiah. Tak bikin peraturan, dolar dan lain-lainnya, kecuali real barangkali karena negeri dengan mekkah dan madinah, he he he, ga boleh masuk ke Indonesia. Mereka sudah harus nuker di negaranya masing-masing. Bakal dimusuhin sih, tapi biar saja. Wong presidennya kan saya, ha ha ha.
Negara juga negara saya. Kalo ga suka, ya jangan masuk negara saya. Cuma, saya akan bikin dunia juga jadi perlu sama saya, jadi perlu sama Indonesia. Sehingga pasti mereka akan susah payah nurut, seperti hebatnya kita diam dan nurut diperlakukan oleh mereka!
Read more...

15 Fakta Indonesia Bukan Negara Miskin

Fakta seputaran krisis hasil googling di internet bahwa “the haves one” di indonesia itu masih konsumtif, adalah sebagai berikut:

Fakta Krisis 1 : Indonesia termasuk negara di dunia yang hingga kini telah menyerap ratusan ribu perangkat BlackBerry

Fakta Krisis 2 : Iphone 3G dibandrol dengan harga berkisar Rp 10 juta. Lebih dari 17 ribu orang telah mendaftar pre oder ke telkomsel Februari 2009

Fakta Krisis 3 : Bulan Januari 2009 lalu, Mercedes Benz mampu menjual 135 unit Mercedes Benz kelas mobil passenger.Target penjualan sebesar 2.040 unit tahun 2009

Fakta krisis 4 : Dari total 8.400 unit yang tersedia, permintaan apartemen mencapai 8.200 unit selama tahun 2008

Fakta krisis 5 : Hingga 2009, First Media menargetkan mampu menggaet sejuta pelanggan internet dan TV berlangganan. Bayaran bulannya kira kira 300 ribuan

Fakta krisis 6 : Komite BRTI Heru Sutadi “penurunan kualitas layanan dikarenakan pengguna datacard (IM2 Indosat) begitu cepat tumbuh dan diminati”

Fakta krisis 7 : Tahun 2008 TV LCD di Indonesia akan mencapai 415.000 unit naik sekitar 100% dibandingkan 2007. Harga/unit dimulai dari 5 s/d 100 juta rupiah

Fakta krisis 8 : Focus Realty, Michael J Supit “Yang banyak dicari sekarang adalah unit properti dengan harga tinggi sekitar Rp 4 miliar”

Fakta krisis 9 : Tiket pertunjukan musisi Jason Mraz untuk Jakarta International Java Jazz Festival 2009 pada Jumat, (6/3), dan Sabtu, (7/3), ludes.

Fakta Krisis 10 : Penjualan notebook diprediksi capai 100.000 unit tahun 2009

Fakta krisis 11 : Bank Mandiri mengajukan permintaan tambahan kuota untuk penjualan ORI seri 004. Jatah ORI Mandiri sebesar Rp 1,5 triliun telah ludes terjual

Fakta krisis 12 : Penjualan sukuk ritel berhasil menambah lebih dari 14 ribu investor baru. Jumlah nominal sukuk ritel yang diterbitkan mencapai Rp5,556 triliun.

Fakta krisis 13 : Ketua Umum Asosiasi Realestat Broker Indonesia (AREBI) Darmadi Dharmawangsa “Mereka (Singapura) memburu konsumen property dari Indonesia”

Fakta krisis 14 : Ketua Asosiasi Pengelola Reksadana Indonesia (APRDI) optimistis dana kelolaan industri reksadana tumbuh 15 s/d 20% dari tahun 2008 yaitu 74T

Fakta Krisis 15 : PT Logam Mulia, anak usaha PT Aneka Tambang Tbk, mencatatkan pendapatan selama 2008 sebesar Rp2,9 triliun atau naik 2x dari tahun 2007

Read more...

Friday, 7 August 2009

Dokter Lo Siaw Ging, Tak Sudi Berdagang


Ketika biaya perawatan dokter dan rumah sakit semakin membubung tinggi,
tidak ada yang berubah dari sosok Lo Siaw Ging, seorang doter di Kota
Solo, Jawa Tengah. Dia tetap merawat dan mengobati pasien tanpa menetapkan tarif, bahkan sebagian besar pasiennya justru tidak pernah
dimintai bayaran

Maka, tak heran kalau pasien-pasien Lo Siaw Ging tidak hanya warga Solo,
tetapi juga mereka yang berasal dari Sukoharjo, Karanganyar, Sragen,
Klaten, Boyolali, dan Wonogiri. Usianya yang sudah menjelang 75 tahun
tak membuat pria itu menghentikan kesibukannya memeriksa para pasien.

Dokter Lo, panggilannya, setiap hari tetap melayani puluhan pasien yang
datang ke tempatnya praktik sekaligus rumah tinggalnya di Jalan Jagalan
27, Kelurahan Jebres, Kota Solo. Mayoritas pasien Lo adalah keluarga tak
mampu secara ekonomi. Mereka itu, jangankan membayar ongkos periksa,
untuk menebus resep dokter Lo pun sering kali tak sanggup.

Namun, bagi Lo, semua itu dihadapinya dengan ”biasa saja”. Dia merasa
dapat memahami kondisi sebagian pasiennya itu. Seorang pasiennya
bercerita, karena terlalu sering berobat ke dokter Lo dan tak membayar,
ia merasa tidak enak hati. Dia lalu bertanya berapa biaya pemeriksaan
dan resep obatnya.

Mendengar pertanyaan si pasien, Lo malah balik bertanya, ”Memangnya kamu
sudah punya uang banyak?”

Pasiennya yang lain, Yuli (30), warga Cemani, Sukoharjo, bercerita, dia
juga tak pernah membayar saat memeriksakan diri. ”Saya pernah ngasih
uang kepada Pak Dokter, tetapi enggak diterima,” ucapnya.

Kardiman (45), penjual bakso di samping rumah dokter Lo, mengatakan,
para tetangga dan mereka yang tinggal di sekitar rumah dokter itu juga
tak pernah diminta bayaran. ”Kami hanya bisa bilang terima kasih dokter,
lalu ke luar ruang periksa,” katanya.

Cara kerja Lo itu membuat dia setiap bulan justru harus membayar tagihan
dari apotek atas resep-resep yang diambil para pasiennya. Ini tak
terhindarkan karena ada saja pasien yang benar-benar tak punya uang
untuk menebus obat atau karena penyakitnya memerlukan obat segera,
padahal si pasien tak membawa cukup uang.

Dalam kondisi seperti itu, biasanya setelah memeriksa dan menuliskan
resep untuk sang pasien, Lo langsung meminta pasien dan keluarganya
menebus obat ke apotek yang memang telah menjadi langganannya. Pasien
atau keluarganya cukup membawa resep yang telah ditandatangani Lo,
petugas di apotek akan memberikan obat yang diperlukan.

Pada setiap akhir bulan, barulah pihak apotek menagih harga obat
tersebut kepada Lo. Berapa besar tagihannya? ”Bervariasi, dari ratusan
ribu sampai Rp 10 juta per bulan.”

Bahkan, pasien tak mampu yang menderita sakit parah pun tanpa ragu
dikirim Lo ke Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo. Dengan mengantongi surat dari
dokter Lo, pasien biasanya diterima pihak rumah sakit, yang lalu
membebankan biaya perawatan kepada Lo.

Kerusuhan 1998

Nama dokter Lo sebagai rujukan, terutama bagi kalangan warga tak mampu,
relatif ”populer”. Namun, mantan Direktur RS Kasih Ibu ini justru tak
suka pada publikasi. Beberapa kali dia menolak permintaan wawancara dari
media.

”Enggak usahlah diberita-beritakan. Saya bukan siapa-siapa,” ujarnya.

Bagi Lo, apa yang dia lakukan selama ini sekadar membantu mereka yang
tak mampu dan membutuhkan pertolongan dokter. ”Apa yang saya lakukan itu
biasa dilakukan orang lain juga. Jadi, tak ada yang istimewa,” ujarnya.

Di kalangan warga Solo, terutama di sekitar tempat tinggalnya, Lo
dikenal sebagai sosok yang selalu bersedia menolong siapa pun yang
membutuhkan. Tak heran jika saat terjadi kerusuhan rasial di Solo pada
Mei 1998, rumah dokter keturunan Tionghoa ini justru dijaga ketat oleh
masyarakat setempat.

Lo juga tak merasa khawatir. Justru para tetangga yang meminta dia tidak
membuka praktik pada masa kerusuhan itu mengingat situasinya rawan,
terutama bagi warga keturunan Tionghoa. Namun, Lo menolak permintaan
itu, dia tetap menerima pasien yang datang.

”Saya mengingatkan dokter, kenapa buka praktik. Wong suasananya kritis.
Eh, saya yang malah dimarahi dokter. Katanya, dokter akan tetap buka
praktik, kasihan sama orang yang sudah datang jauh-jauh mau berobat,”
cerita Putut Hari Purwanto (46), warga Purwodiningratan, yang rumahnya
tak jauh dari rumah Lo.

Bahkan, meski tentara datang ke rumah Lo untuk mengevakuasi dia ke
tempat yang aman, Lo tetap menolak. Maka, wargalah yang kemudian
berjaga-jaga di rumah Lo agar dia tak menjadi sasaran kerusuhan.

”Saya ini orang Solo, jadi tak perlu pergi ke mana-mana. Buat apa?” ucapnya.

Anugerah

Menjadi dokter, bagi Lo, adalah sebuah anugerah. Dia kemudian bercerita,
seorang dokter di Solo yang dikenal dengan nama dokter Oen, seniornya,
dan sang ayahlah yang membentuk sosoknya. Dokter Oen dan sang ayah kini
telah tiada.

Lo selalu ingat pesan ayahnya saat memutuskan belajar di sekolah
kedokteran. ”Ayah saya berkali-kali mengatakan, kalau saya mau jadi
dokter, ya jangan dagang. Kalau mau dagang, jangan jadi dokter. Makanya,
siapa pun orang yang datang ke sini, miskin atau kaya, saya harus
terbuka. Saya tidak pasang tarif,” kata Lo yang namanya masuk dalam buku
Kitab Solo itu.

Papan praktik dokter pun selama bertahun-tahun tak pernah dia pasang.
Kalau belakangan ini dia memasang papan nama praktik dokternya, itu
karena harus memenuhi peraturan pemerintah.

Tentang peran dokter Oen dalam dirinya, Lo bercerita, selama sekitar 15
tahun dia bekerja kepada dokter Oen yang dia jadikan sebagai panutan.
”Dokter Oen itu jiwa sosialnya tinggi dan kehidupan sehari-harinya
sederhana,” ujarnya.

Dari kedua orang itulah, Lo belajar bahwa kebahagiaan justru muncul saat
kita bisa berbuat sesuatu bagi sesama. ”Ini bukan berarti saya tak
menerima bayaran dari pasien, tetapi kepuasan bisa membantu sesama yang
tidak bisa dibayar dengan uang,” katanya sambil bercerita, sebagian
pasien yang datang dari desa suka membawakan pisang untuknya.

Gaya hidup sederhana membuat Lo merasa pendapatan sebagai dokter bisa
lebih dari cukup untuk membiayai kehidupannya sehari-hari. Apalagi, dia
dan sang istri, Maria Gan May Kwee atau Maria Gandi, yang dinikahinya
tahun 1968, tak memiliki anak.

”Kebutuhan kami hanya makan. Lagi pula orang seumur saya, seberapa
banyak sih makannya?” ujar Lo.

Bahkan, di mata para pasien, Lo seakan tak pernah ”cuti” praktik. Lies
(55), ibu dua anak, warga Kepatihan Kulon, Solo, yang selama puluhan
tahun menjadi pasiennya mengatakan, ”Dokter Lo praktik pagi dan malam.
Setiap kali saya datang tak pernah tutup. Sepertinya, dokter Lo selalu
ada kapan pun kami memerlukan.”

DATA DIRI

• Nama: Lo Siaw Ging • Lahir: Magelang, 16 Agustus 1934 • Istri: Maria
Gan May Kwee (62) • Pendidikan: - Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga, 1962 - S-2 (MARS) Universitas Indonesia, 1995 • Profesi: -
Dokter RS Panti Kosala, Kandang Sapi, Solo (sekarang RS dokter Oen,
Solo) - Mantan Direktur Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo

KOMPAS Sonya Helen Sinombor

Read more...

Thursday, 6 August 2009

Jangan Mengguncang Bayi dan Batita Anda

Pernah melihat orangtua yang melempar-lemparkan bayinya ke udara lalu
menangkapnya untuk mendengar sang bayi tertawa? Atau mengguncang-
guncang bahunya keras sambil berekspresi lucu?
Tapi, jika Anda melakukan demikian, maka berhentilah. Dan jika melihat
orang lain berbuat begitu pada bayi mereka, cegahlah, karena sangat
berbahaya.

Selain itu, Rata - rata sekitar 100 bayi di Jerman setiap tahun
mengalami kerusakan parah di otak karena mereka diguncang-guncang
pengasuhnya, yang hampir di semua kasus, "terlalu terbebani". Laporan
mengenai angka tersebut berdasarkan sensus dari unit penyakit langka anak-anak di Jerman. Asosiasi dokter anak di Jermanmemperkirakan angka bayi yang mengalami
trauma akibat diguncang-guncang, sebenarnya lebih tinggi lagi. Guncangan keras selama lima detik saja sudah cukup untuk merusak fungsi- fungsi otak," kata profesor Hans-Juergen Nentwich, anggota dewan direktur asosiasi tersebut.Mengapa guncangan pada bayi bisa bermuara pada kematian?

Menurut ahli kedokteran tadi, ini dikarenakan bayi yang masih sangat
muda belum bisa menahan kepalanya sendiri lantaran otot lehernya yang
lemah. Akibatnya, jika bayi terguncang badannya, kepalanya akan
bergoyang ke depan dan belakang. Goyangan ini yang mengakibatkan
kerusakan otak serta pendarahan di d alam otak dan pada permukaan otak.
Dapat menimbulkan masalah serius pada otak sang bayi, dan dapat
mengakibatkan masalah yang berlangsung permanen, seperti:
1. kerusakan otak
2. cerebral palsy
3. kebutaan
4. epilepsi
5. kesulitan berbicara
6. kesulitan belajar
7. kesulitan koordinasi
8. serangan jantung,
9. keterbelakangan mental.

Berikut TIPS Mencegah

* Jangan pernah mengguncang bayi di bawah umur 3 tahun, dengan alasan
apapun juga.
* Saat Anda menggendong bayi Anda, jangan lupa untuk selalu menyangga
kepala bayi Anda dengan tangan.
* Beritahukan pentingnya melindungi kepala bayi Anda kepada baby sitter
atau pengasuh bayi Anda.
* Pastikan semua orang yang dekat dan sering menggendong bayi Anda tahu
benar bahayanya seorang bayi jika
diguncang-guncang atau digoyang.
* Jika dengan sengaja/tidak sengaja, Anda mengguncang- guncang bayi
Anda, segera bawa bayi Anda ke dokter untuk
diperiksa. Pendarahan di d alam otak hanya dapat
diobati jika anda segera memberitahukan kepada dokter bahwa
Anda baru saja mengguncang bayi anda. Cara ini akan menyelamatkannya
Pada beberapa orang anak bahkan dapat menimbulkan kematian. Ini dikenal
dengan shaken baby syndrome.
Kenapa berbahaya?
1. Bayi memiliki kepala lebih besar dibandingkan dengan anggota tubuh
yang lain, dan otot lehernya masih lemah. Jika
diguncang, kepalanya akan tersentak ke depan dan ke belakang.
2. Sentakan-sentakan itu akan mengguncang otak dan merusaknya.
3. Pembuluh darah kecilnya akan ikut rusak, menimbulkan pendarahan di
otak dan sekitarnya, dan juga di mata bayi.
Resiko terbesar adalah pada bayi dibawah satu tahun, tapi tidak menutup
kemungkinan dapat terjadi di usia yang lebihbesar. Yang harus diwaspadai adalah guncangan-guncangan ini dapat terjadi justru ketika kita asyik bermain dengan sang bayi.
Karenanya ada beberapa permainan dan aktivitas yang harus dihindari
untuk mencegahnya, antara lain:
1. Melempar bayi ke udara
2. Lari-lari sambil membawa bayi di punggung atau di kepala
3. Kuda-kudaan (bayi naik ke punggung, naik ke kaki dan
digoyang-goyang)
4. Memutar bayi

Jangan lupa mengingatkan orang-orang di sekitar sang bayi, seperti
saudara-saudaranya, pengasuhnya, kakek-neneknya,
untuk tidak mengguncang bayi
Read more...

Followers